Menu
Categories
Bindoro Saud, Raja Ke 29 Memimpin Kerajaan Sumenep
15/03/2011 Tokoh
Sejarah Sumenep mencatat bahwa Bindoro Saud adalah Raja ke 29 yang memimpin kerajaan Sumenep. sejak tahun 1750 – 1762.
bindara saudBendoro Saud keturunan dari Pangeran Katandur. Pangeran ini cucu dari Sunan Kudus, Pangeran Katandur adalah pemimpin pertanian yang mula-mula memberi contoh bercocok tanam didesa Parsanga dan desa-desa disekitarnya dalam pertengahan abad ke- 17.

Waktu didaerah Sumenep ditimpa bencana kelaparan hujan lama tidak turun dan rakyat disibukkan oleh macam-macam peperangan tetapi berkat petunjuk-petunjuk dari    Pangeran Katandur dibidang pertanian maka hasil produksi dapat dilipat gandakan dan kelaparan dapat segera diatasi.

Pangeran Katandur memang mempunyai darah keturunan Arab maka disamping memimpin pertanian ia juga menyebarkan Agama Islam, setelah beberapa keturunan sampailah pada Bendoro Saud, dengan demikian ia mempunyai keturunan Arab. Bendoro Saud diambil oleh pamannya ialah Kyai Pekke, Kyai ini mempunyai banyak santri termasuk pula Bendoro Saud.

Pada malam hari santri-santrinya tidur bersama-sama dilanggar, pada suatu malam Kyai Pekke melihat-lihat santrinya yang sedang tidur dalam malam yang gelap itu tampaklah sinar yang datang dari salah seorang santrinya.

Kyai Pekke menghampiri santri tersebut dan memberi tanda sarungnya dilobangi dengan api rokok, pada keesokan harinya Kyai Pekke memeriksa santri-santrinya dan ternyata sarung yang diberi tanda disarungnya berlobang ialah Bendoro Saud, Isteri Bendoro Saud ialah Nyai Isza dan mempunyai dua orang anak yang bernama Ario Pacinan dan Sumolo bergelar Panembahan Notokusumo I.

Diceritakan selanjutnya bahwa Ratu Tirtonegoro bermimpi supaya ia kawin dengan Bendoro Saud anak dari Bendoro Bungso yang tinggal di Batu Ampar oleh karena itu ia menyuruh menterinya untuk memberi tahu Bendoro Saud supaya menghadap kekeraton dan Bendoro Saud diberitahunya atas mimpinya. Setelah ada kata sepakat dari keduanya perkawinan dilaksanakan dengan mengambil gelar isterinya ialah Tumenggung Tirtonegorodan terus menetap di keraton.

Selanjutnya diceritakan bahwa Patih Sumenep ialah Purwonegoro mendengar adanya pelaksanaan perkawinan di keraton ia amat marah karena ia sendiri bermaksud mengawini Ratu Tirtonegoro, ia tidak sudi menghadap kekeraton meskipun berkali-kali dipanggil oleh Ratu, bahkan ia membalas panggilan itu dengan nada menantang Bendoro Saud untuk berperang.

Pada suatu waktu di Pendopo keraton diadakan pertemuan dan sekaligus untuk memperkenalkan R.T. Tirtonegoro (Bendoro Saud). Juga patih Purwonegoro diharuskan hadir oleh Ratu Tirtonegoro, pada saat itu seorang menteri yang bernama K. Sawunggaling disuruh berpakaian kerajaan dan didudukkan diatas kursi kerajaan sehingga jika orang kurang teliti akan mengira bahwa ia adalah Rajanya.

Sebelah belakang kanan berdiri pemegang tombak upacara keraton tidak antara lama patih Purwonegoro datang dengan kelihatan sangat marah dan terus menuju orang yang duduk disinggasana (dikiranya Bendoro Saud) dengan pedang terhenus serta terus memukulkan pedangnya dengan sangat keras, untunglah pedangnya tidak mengenai sasarannya akan tetapi tertancap ditiang pendopo sehingga tidak mudah ditarik kembali. Setelah Sawunggaling mengelakkan diri dari bacokan pedang terus ia menghunuskn pedangnya ditusukkan keperut patih Purwonegoro meninggal seketika itu juga, peristiwa yang tragis itu menimbulkan banyak akibat.Sebagaimana telah diceritakan bahwa antar Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro ada hubungan famili ialah sama-sama keturunan Judonegoro karena peristiwa tersebut, maka kerajaan Sumenep pecah menjadi dua ialah golongan yang ada dipihak Tirtonegoro diperbolehkan tinggal di Sumenep dan diwajibkan berubah gelarnya dengan sebutan Kyai serta berjanji tidak akan menentang Bendoro Saud sampai tujuh keturunannya.

Bagi mereka yang tidak setuju terhadap ketentuan diatas dianjurkan lebih baik meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke Pamekasan, Sampang atau Bangkalan.diceritakan bahwa yang tinggal di Sumenep masih cukup banyak karena masih banyak yang cinta kepada Ratu Tirtonegoro.Sebagaimana telah diceritakan bahwa Bendoro Saud dengan Isterinya yang pertama Nyai Isza mempunyai dua orang anak sedangkan dengan Ratu Tirtonegoro tidak mempunyai keturunan.

Pada suatu waktu Ratu Tirtonegoro memanggil dua orang anak dari Bendoro Saud dan disuruh untuk menghadap kekeraton, setelah mereka sampai kekeraton mereka menyembag dan duduk berjauhan dengan Bapak dan ibu tirinya karena itu satu persatu dipanggilnya dan yang datang pertama ialah yang tertua dengan menyungkem kepada ayahnya terlebih dulu, setelah itu datanglah yang putera yang kedua dan ialah Somala yang menyungkem terlebih dahulu pada ibu tirinya dan dilanjutkan pada Bapaknya.

Ratu Tirtonegoro lalu berkata sebagai wasiat yang diingat oleh sekretaris Kerajaan ialah sebagai berikut : “kelak kemudian hari apabila ayah dari kedua orang anak ini meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah anaknya yang nomor dua yang bernama Somala”.

Kedua anak itu atau diijinkan tinggal dikerajaan beberapa waktu lamanya setelah itu ia minta diri untuk kembali kerumah ibunya di Batu Ampar, setelah Tirtonegoro (Bendoro Saud) meninggal dunia dalam tahun 1762, maka sesuai wasiat Ratu Tirtonegoro yang menggantikannya ialah Somala dengan bergelar Panembahan Notokusumo I.

Beberapa kejadian selama pemerintahan Somala ialah sebagai berikut : pemisahan Kabupaten Panarukan dari daerah Sumenep, yang sebelumnya memang termasuk wilayah kerajaan Madura, pembikinan keraton Sumenep yang sekarang menjadi Rumah Kabupaten dan pembangunan Masjid Jamik dikota Sumenep tahun 1763.

Pada tahun 1810 Panembahan Somala diminta datang oleh Kompeni ke daerah Semarang untuk ikut serta menjaga daerah pesisiran berhubung dengan timbulnya peperangan antara Belanda dan Inggris, sewaktu Somala tidak ada di Sumenep inggris datang menyerang dari lautan dengan kapal perangnya yang mempergunakan meriam sampai di Pantai Soroka.

Berhubung pemerintahan tidak ada di Sumenep maka Patih Sumenep ialah Kyai Mangundi Rejo mengambil keputusan untuk menyerang Inggris dan bersama sama anaknya berangkat ke pantai Soraka yang diikuti pula oleh tentara Sumenep, dalam pertempuran itu Patih Mangundirejo beserta anak-anaknya Gugur demikian pula banyak anggota-anggota yang tewas dalam peperangan itu.

Sewaktu Somala datang dari Semarang dan mendengar kabar itu ia sangat terharu dan terus menyusul ke Saroka, sesampinya di Saroka ternyata tentara inggris sudah meninggalkan medan pertempuran dan mereka sudah naik keatas kapal dan terus berlayar meninggalkan perairan daerah Sumenep.

Dikutip dari :Buku Selayang Pandang Sejarah Madura


"9" Comments
  1. sebelumnya mohon maaf. kalau boleh tanya,, apa admin ini juga keturunan raja2 sumenep??? terima kasih

  2. Sy ingin tahu siapa itu raden bagus ardja atdmuwinoto?? @kuta-bali

    • Radhin Baghus

      mungkin yang mas ariex maksud itu Raden Ario Atmowinoto (Agil). beliau adalah putra Raden Ario Atmowijoyo (‘Abdul Ghani), cucu Sultan ‘Abdurrahman, Sultan Sumenep

  3. kata nenek saya nenek saya adalah keturunan dari keraton sumenep.nama nenek saya adalah siti aminah anak dari nyai umi salama dan babak jaimin,neneknya bernama cut manisa dan H.moh.tahir dan neneksaya siti aminah tinggal di puger kab.jember.apakah bisa dicek kebenaran tersebut?mohon konfirmasinya

  4. Imam Ariefin

    Saya mau tentang Kie Raksa Odang atau Kie Raksa Mina,karena menurut orang tua,sy adalah keturunanya,sedangkan sy sendiri blm pernah ke Sumenep.Rencana mau ke Sumenep siapa masih ada saudara sy disana.Sy sangat berterima kasih byk kpd saudara jika tdk keberatan memberi informasi tentang silsilah atau apa sj tentang Kie Raksa Odang.Atas segala bantuannya sy ucapkan terimakasih sy yg tak terhingga.hormat kami.Imam Ariefin.Kuta-Bali

Leave a Reply
****