Menu
Categories
Dari Bajo sampai Terdampar di Pulau Sapeken
31/05/2012 Budaya

Suku Bajo Terpadat di Dunia.

Kehidupan Suku Bajo Di Pulau Sapeken

Kehidupan Suku Bajo Di Pulau Sapeken

Kendati sempit, pulau Sapeken dihuni oleh sekitar 12.600 jiwa. Dari jumlah itu, penduduk Suku Bajo berdasarkan Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2000 berjumlah sekitar 5.526 orang. Bisa dibayangkan, inilah Suku Bajo dengan populasi terpadat di Indonesia dan dunia.

Menurut Antropolog asal Jepang yang mendalami Suku Bajo, Prof Nagatzu Kazufumi, populasi Suku Bajo di seluruh dunia tercatat sekitar 1,1 juta orang. Mereka tersebar di daerah- daerah pantai di Pulau Sulu (Filipina), pantai Sabah (Malasyia), dan Indonesia.

Di Indonesia, Suku Bajo tersebar di berbagai pulau-pulau kecil dan pantai seperti di Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulewesi Selatan, Jawa Timur, dan lain-lain. Lalu, dari manakah Suku Bajo berasal, Indonesia atau Filipina? Kalau pertanyaan tersebut ditujukan pada masyarakat Bajo, umumnya mereka serempak bakal menjawab tidak tahu. Maklum, gaya hidup mereka yang selalu berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya membuat generasi sekarang ini seolah kehilangan nenek moyang mereka.

Manusia Laut Menurut Kazumi dalam karya ilmiahnya yang diterbitkan jurnal Hakusan Review of Anthroplogy edisi ke-13 (Maret 2010), ada dua hipotesa menyangkut asal mula Suku Bajo. Pertama, diajukan ahli geografi ternama D.E. Sopher yang telah dipublikasikan dengan judul Th e Sea Nomads atau Manusia Laut yang Berpindah-pindah (1977).

Menurutnya, secara periodik Suku Bajo bermigrasi dari Pulau Lingga (Riau) sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 menuju pantai barat Kalimantan. Dari sini mereka lalu menyebar ke Sulu (Filipina) dan pantai-pantai di Pulau Sulawesi. Kalau melihat hipotesa Sopher tersebut, bisa jadi asal mula Suku Bajo berawal dari Pulau Lingga, yang sekarang secara administrasi berada di Provinsi Riau Kepulauan. Lain lagi dengan hipotesa yang diajukan ahli lingusitik AK Pallesen dan ahli etnografi HA Nimmo.

Dilihat berdasarkan bahasa yang dipakai kelompok tersebut, Pallesen dan Nimmo berpendapat, Suku Bajo berasal dari Mindanao, Filipina. Menurutnya, pada abad ke-10 itulah mereka lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Terlepas dari asal mulanya, keberadaan Suku Bajo di Indonesia tergolong unik. “Mereka hanya mendiami kawasan pantai yang memiliki potensi ikan yang berlimpah.

Hasil riset Nagatsu menunjukkan, dimana ada Suku Bajo tinggal, di situlah dasar lautnya memiliki kualitas terumbu karang yang masih terjaga dengan baik,” ujar Prof Dr Aris Poniman, profesor riset yang baru-baru ini mendalami distribusi spasial Suku Bajo di Indonesia. Begitu juga keberadaan Suku Bajo di Pulau Sapeken. Riset memang membuktikan, perairan di Sapeken, Kangean, dan sekitarnya masih memiliki terumbu karang yang bagus.

Kelimpahan terumbu karang inilah yang menjadi daya tarik bagi beragam jenis ikan untuk memijah, membesarkan, tempat bermain bagi anak-anak ikan, berlindung, mencari pakan, dan lain-lain. Singkat kata, terumbu karang yang baik menunjukkan kelimpahan biota laut yang besar. Begitu juga sebaliknya, terumbu karang yang hancur hanya menyisakan padang pasir yang sunyi dari kehidupan biota laut.

Itulah sebabnya, tak ada Suku Bajo yang tinggal di pesisir utara Jawa. Mereka tahu, selain terumbu karang sudah hancur, perairannya juga kotor akibat parahnya pencemaran dari hasil aktivitas manusia di daratan Pulau Jawa. Kondisi semacam ini jelas sangat sulit untuk memburu ikan, udang, lobster, dan lain-lain.

Terdampar di Sepekan

Lalu dari manakah Suku Bajo yang sekarang ini menetap di Pulau Sapeken? Berdasarkan beberapa kajian, menilik bahasa dan logat yang dipakai, mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Konon, menurut cerita dari mulut ke mulut, mereka terdampar di pulau tersebut dan tidak dapat keluar selama satu pekan (satu minggu).

Dari sinilah lalu pulau kecil itu dinamakan Pulau Sapeken. Kini, pulau tersebut didominasi komunitas Suku Bajo. Hampir separo dari jumlah penduduk itu dihuni oleh Suku Bajo. Sisanya, berasal dari Suku Bugis, Madura, Jawa, Bali, Sunda, dan Aceh. Seluruh penduduk tersebut memeluk agama Islam. Kendati kegiatan kebudayaan didominasi oleh Suku Bajo, mereka tetap hidup rukun dan damai.

Ini dikarenakan mereka tetap menjunjung tinggi budaya dan adat suku lainnya seperti Madura, Jawa, Bali, dan Bugis. Bagi Suku Bajo, tinggal di Pulau Sapeken memiliki kenyamanan tersendiri. Selain perairannya masih bersih, lingkungan ekosistem lautnya juga masih sehat. Letaknya juga terbilang strategis, yakni dikelilingi pulau-pulau Kangean, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, Saur, Sakala, dan lain-lain.

Kondisi geografis semacam ini cocok bagi Suku Bajo yang memiliki matapencaharian sebagai nelayan. Apalagi ada pelabuhan yang digunakan untuk melayani pulau-pulau di sekitarnya. Tak jauh dari situ, ada juga eksplorasi minyak berskala komersial. Komplit sudah, di dasar laut memiliki keragaman hayati tinggi.

Sementara itu, di bawah dasar laut terdapat cadangan minyak bumi yang berlimpah ruah. Meskipun diselimuti potensi sumber daya laut berlimpah, namun kehidupan di Pulau Sapeken tergolong sederhana. Coba lihat bentuk tempat tinggalnya, berupa rumah panggung dengan bahan lokal seadanya. Rumah panggung dibuat untuk menghindari pasang laut agar air tidak menerobos masuk ke rumah. Alat transportasinya becak, sepeda motor, dan gerobak kecil untuk mengangkut hasil tangkapan ikan ke pasarpasar tradisional.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka lebih memilih ke Banyuwangi (Jawa Timur) dan Singaraja (Bali) daripada Kalianget (Sumenep, Madura). Maklum, waktu tempuh ke Banyuwangi dan Singaraja jauh lebih cepat. Jika ombak tenang, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 6 jam. Namun jika sedang berombak tinggi, perjalanan tersebut perlu waktu 9 jam. (LM)

Tulisan bersambung:

  1. Terdampar Sepekan di Pulau Sapeken
  2. Dari Bajo sampai Terdampar di Pulau Sapeken
  3. Kehidupan Masyarakat Pagerungan Sapeken
"2" Comments
  1. Amazing! Its really remarkable paragraph, I have got much clear idea regarding from this piece of writing.

  2. mwantep polll
    sukses selalu
    semoga bermanfaat bagi kita semua

Leave a Reply
****