Menu
Categories
Kesenian di Madura: Erat dengan Konteks Historis dan Kebudayaan
15/04/2011 Artikel

I

madura: guna cara nuru pita satya pura

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata ‘Madura’? Beberapa dengan segera akan berpikir mengenai kondisi geografis Madura yang panas dan gersang, beberapa segera berpikir mengenai ramuan jamu Madura yang terkenal, beberapa segera berpikir mengenai jembatan Suramadu (saya termasuk yang ini), beberapa segera berpikir mengenai sate dan sop kambing (saya juga termasuk yang ini), dan beberapa yang lain berpikir mengenai carok. Sedikit sekali yang berpikir mengenai kesenian. Hélène Bouvier termasuk dalam yang sedikit itu.

Hélène Bouvier meneliti mengenai kesenian di Madura, lebih tepatnya di Kabupaten Sumenep. Sebagai kabupaten di ujung pulau Madura, Sumenep berbagai karakteristik yang sama dengan tiga kabupaten lainnya di pulau Madura. Jika Kuntowijoyo mengaitkan kehidupan orang Madura terkait dengan ekosistem tegalan sebagai jiwanya, maka Hélène Bouvier mengaitkan kehidupan orang Madura dengan kesenian sebagai napasnya.

Kesenian di Madura pada hakikatnya berkaitan erat dengan konteks historis dan kebudayaan Madura itu sendiri. Dalam pandangan Bouvier, sebagai tindakan sekaligus ekspresi, kesenian pada dasarnya bersandar pada irama kehidupan, yang di dapat dengan menggali kedalaman dan jati diri setiap insan. Meskipun demikian Bouvier membatasi diri hanya pada kesenian yang berkembang di Sumenep dengan memberikan detail pada genre, repertoar, kesempatan, pelaku, dan audien penikmat seni. Kajian ini merupakan sedikit dari etnografi mengenai kesenian tradisional yang berhasil menggugah minat saya terhadap seni tradisional.

II

sattanangnga ma’ èsassa’a (kan ku cuci saputangan ku)
ngala’ bato entar ka lorong (di lorong ku ambil batu)
ma’ èmanna sè apèsa’a (sakitnya meninggalkan dirimu)
mon sanonto èkapolong (sekarang kita kembali bersatu)

Adalah sebuah kesalahan, dalam pandangan Bouvier, memiliki gagasan bahwa kesenian urban memiliki nilai dari kesenian tradisional yang berlangsung di desa-desa, terlebih di desa yang terpencil. Dalam kegiatan penelitian yang dilakukan, nampak bahwa kesenian, khususnya musik, tampil di banyak kesempatan. Musik sendiri muncul ke dalam setiap kegiatan kesenian yang berlangsung. Dalam setiap kegiatan seperti itu, musik muncul dalam bentuk vokal solo, instrumental, maupun instrumental-vokal.

Kesenian memiliki posisi yang penting dalam denyut nadi kehidupan masyarakat di Sumenep. Sebagaimana tergambar dalam kata lèbur, yang berarti bagus, menyenangkan, menghibur. Secara spesifik kata ini adalah bentuk apresiasi positif atas kesenian yang ditampilkan. Kesenian muncul dalam setiap kegiatan yang termanifestasi dalam dua hal: kesenian itu sendiri dan gelegar suara dari kesenian yang ditampilkan. Dalam masyarakat Madura, gelegar suara adalah penanda paling mudah untuk mengetahui apakah sebuah kegiatan kesenian sedang dilangsungkan atau tidak. Pengeras suara tidak hanya merupakan aspek pragmatis untuk memperbesar jangkauan suara, namun juga pendongkrak gengsi bagi pemilik acara. Pengeras suara dengan demikian menghapus batasan-batasan kesenian, sehingga kesenian dapat dinikmati oleh masyarakat luas, yang pada gilirannya akan mendorong mereka datang, dan menaikkan gengsi pemilik acara.

Dalam tradisi kultural masyarakat, kesenian merupakan salah satu perekat hubungan personal sekaligus komunal, sebab melalui kesenian lah hubungan-hubungan tersebut berlangsung dan bertahan. Dalam dunia di mana hubungan-hubungan komunal dipertahankan melalui kegiatan dan upacara keagamaan, maka kesenian merupakan elemen pendukung yang tidak dapat dikesampingkan.

Genre kesenian yang berkembang di Madura boleh lah dikatakan sangat unik dan khas. Di Madura, seni musik, nanyian, tarian, maupun pertunjukkan, bergabung bersama, seringkali terpisah sehingga membentuk entitas yang berbeda, walaupun seringkali bersatu membentuk konfigurasi yang membingungkan. Tidak mudah mengklasifikasikan kesenian Madura dalam terminologi kesenian Barat, hal ini diakui oleh Bouvier. Loddrok misalnya, tidak dapat diklasifikasikan sebagai opera atau operet per se, karena memiliki unsur komedi yang berhiaskan nyanyian.

Meskipun kesenian di Madura tidak dapat dipisahkan secara taksonomis, namun terdapat perbedaan antara ‘kesenian agama’ dengan kesenian umum. Kesenian agama di sini, walaupun menggunakan terma agama sebagai payung, namun hanya merujuk pada kesenian yang berkembang melalui tradisi Islam Madura. Oleh karena itu, model kesenian ini dinamakan oleh Bouvier sebagai kesenian Islam. Dalam konteks historis yang membentuk Madura, terutama Sumenep, yang telah lama terpapar dengan berbagai kebudayaan, hal ini berpengaruh besar terhadap bentuk kesenian yang berkembang di Madura, khususnya Sumenep. Kedatangan Islam misalnya, memberikan dampak yang tidak sedikit dalam membentuk kesenian di Madura.

Kesenian yang ada di Madura, secara ringkas, dapat dilihat dari dua hal: intrumentasi dan genre. Instrumentasi sendiri dilihat dalam tiga konteks: musik, instrumen, dan orkes yang terbagi dalam tujuh kelompok: tongtong adalah bunyi yang berasal dari batang bambu atau akar bambu), orkes okol (orkes kecil dengan jumlah pemain yang berbeda-beda, instrumennya seringkali berupa tongtong), saronen (biasanya muncul ketika Karapan Sapi, berbentuk seperti kerucut [mirip terompet kecil] terbuat dari pohon jati), gamelan (sama dengan gamelan Jawa dan merupakan ciptaan bangsawan keraton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsawan Jawa), gambus (alat musik dawai yang berasal dari budaya Arab yang terbuat dari kayu dadap), terbhang (sebuah tambur kulit berbadan datar yang kemungkinan besar datangnya dari masyarakat Arab, atau rebana rebanna dalam bahasa Madura), dan orkes melayu (termasuk genre musik pop dan dangdut).

Genre musik memiliki taksonominya tersendiri. Antara lain teater (antara lain wayang kulit, pertunjukan topeng, drama, dan loddrok), tembang atau mamaca, tayub atau tandha’ (merupakan nyanyian selang-seling yang ditarikan), lok-alok (merupakan bentuk deklamasi yang ditarikan), dhamong gardam dan ratep (merupakan ritus yang ditarikan), tari-tarian, seni tarung (antara lain ojhung dan penca’ silat), seni Islam (antara lain diba’, samrah/qasidah, hadrah, gambus), dan seni lainnya (antara lain dangdut [O.M atau orkes melayu]).

III

dhalimana èpancara, Wara (buah delima merekah, Wara)
ngarantong buwana billa, manes (tergantung buah maja, manis)
baramma bula sè mencara (apa jadinya kalau kita berpisah)
macaltong atèna bulla (hatiku hancur berantakan)

Sebagai sebuah bentuk kesenian, sebagaimana kesenian lainnya di dunia, tidak dapat berdiri sendiri. Kesenian di Madura terkait erat dengan konteks ruang pelaksanaan di mana kesenian tersebut dimainkan, waktu pelaksanaan, dan latar belakang penanggap. Berbagai kesenian dimainkan sesuai dengan lokasi dimainkan maupun tujuan acara dilaksanakan. Konteks yang lain dapat pula dilihat dari peminat, seniman, maupun perajin kesenian, dan konteks sosial ekonomi yang melingkupinya. Sangat sulit untuk menjelaskan detail-detail terkecil dari kesenian yang digambarkan dengan sangat baik oleh Bouvier.

Meskipun hampir semua kesenian dapat berlangsung di rumah, dalam hal ini orang yang menanggap kesenian, namun beberapa kesenian hanya dapat dilaksanakan di lapangan luas atau lebih tepatnya lingkungan alami, seperti ­lok-olok, ratep atau ojhung. Bebepa kesenian lainnya hanya dilaksanakan di makam keramat, seperti pertunjukan loddrok yang merupakan bagian dari rokat bhuju’ atau upacara ritual bagi makam keramat, di mana kesenian tersebut selalu dilaksanakan di hadapan sebuah meja yang penuh sesajen di depan tempat keramat. Kesenian lain muncul di ruang khusus, utamanya adalah kesenian yang bersifat resmi dan bertempat di tempat yang resmi, seperti pendopo keraton Sumenep atau gedung pertunjukan. Kesenian lainnya muncul berdasarkan daur ulang dalam kehidupan. Daur ulang tersebut terkait dengan dua hal pokok: daur berdasarkan kalender pertanian, dan daur kehidupan manusia.

Satu hal yang menarik, bahkan Bouvier sendiri tidak dapat merumuskan korpus kesenian dengan ketat dan tegas. Beberapa kesenian muncul dalam momen yang sama, meskipun memiliki dimensi yang bertolak belakang. Kesenian loddrok misalnya, kadangkala tampil setelah kesenian hadrah atau samrah. Keduanya pada dasarnya memiliki akar yang berbeda, dan memiliki konteks yang berbeda pula. Perbendaan konteks ini barangkali tidak lah terlalu signifikan, namun dalam konteks yang berbeda kesenian yang muncul pun akan sangat berbeda, antara lain latar belakang si penanggap atau tujuan acara tersebut dilaksanakan. Latar belakang penanggap kesenian maupun tujuan acara dilaksanakan memiliki peran penting terkait dengan kesenian apa yang akan ditanggap. Mereka yang memiliki kedekatan khusus dengan keaye atau memiliki keagamaan yang kuat misalnya, cenderung untuk memilih kesenian Islam dalam kegiatan kesenian yang mereka panggil. Demikian pula jika tujuan melaksanakan kesenian terkait erat dengan kegiatan keagamaan.

Kesenian yang berkembang di Madura tidak dapat melepaskan diri dengan konteks-konteks khusus, yang membawa kesenian tersebut ke akar historis di satu sisi, dan ke arah pemanfaatan di sisi lain. Konteks ini lebih pada kondisi dialektis antara agama dan seni. Beberapa unsur kesenian, seperti dicatat Bouvier, berasal dari masa pra Islam. Misalnya pada pengantar pertunjukan topeng dan loddrok, bahkan beberapa repertoar dari lakon yang dimainkan, mengambil secuplik dari epos Mahabharata atau Ramayana. Beberapa membutuhkan perangkat sesajian khusus sebelum dan dalam proses kegiatan kesenian itu sendiri. Barangkali dialektika yang paling terlihat, antara kesenian dan Islam, termanifestasi dalam kesenian Islam, yang mengusuk repertoar Islam dan setiap sentuhan seninya. Alat musik khas arab, gambus dan terbhang misalnya, mengambil akar historisnya dari masyarakat Arab (atau umumnya Timur Tengah) yang datang ke Madura; demikian pula bacaan maulid maupun lagu-lagu atau syair Arab.

Sebagai sebuah bentuk yang mengambil kehidupan dari denyut nadi masyarakat, kesenian mengikuti perkembangan yang ada di masyarakat. Perkembangan tersebut tidak hanya dalam masalah teknologi saja, namun juga perubahan-perubahan, yang sifatnya pasang-surut. Ada masa ketika kesenian di Madura berkembang sangat pesat dan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit, namun ada masa ketika mereka berada dalam musim paceklik. Terkait dengan hal ini, maka para pelaku kesenian pun membentuk sebuah mekanisme khusus yang dapat memberikan jalan keluar bagi masalah mereka, arisan misalnya. Adapula hubungan tawar-menawar antara pelaku seni dengan penanggap seni, terutama dengan kontrak dan bayaran yang akan mereka dapatkan.

Kesenian di Madura tentu saja mengalami perubahan, yang terkait erat dengan perubahan dan kecenderungan yang ada di masyarakat. Adanya media massa, seperti media elektronik, menyebabkan turbulensi dunia kesenian Madura bahkan lebih kencang lagi. Pilihan tidak lagi terbatas hanya pada seni tradisional, sebab media elektronik memberikan piliha yang jauh lebih luas. Barangkali saat ini, pukulan media bahkan lebih keras lagi ketimbang di saat penelitian ini dilaksanakan oleh Bouvier. Kesenian bahkan ikut terseret arus politik. Loddrok misalnya, lebih sering dimanipulasi sebagai alat kampanye publik oleh para elite politik. Hal-hal ini membawa pengaruh yang tidak sedikit terhadap keberadaan kesenian di Madura.

Bouvier menyebut hal ini dengan “kodrat ganda seni”. Sebab seni tidak pernah berdiri sendiri dan sepi dari kepentingan, maka seni selalu memiliki wajah ganda. Kesenian di Madura tidak pernah hanya untuk kepentingan hiburan semata, namun juga memiliki aspek sosial, gengsi yang dipertaruhkan, pesan-pesan moral dan agama yang hendak diteruskan, hingga pesan kampanye politik dan pembangunan. Kesenian di Madura, pada saat penelitian ini dilangsungkan, membawa multiperan tersebut dalam setiap langkah mereka.

Kesenian tidak pernah murni seni. Terdapat dimensi-dimensi spesifik, baik itu pragmatis maupun kultural, yang mempengaruhi kesenian, yang notabene tumbuh dan besar di masyarakat. Dengan korpus yang mengambil harmoni dari denyut nadi masyarakat, napas seni selalu berirama dengan kehidupan inangnya. Di saat Bouvier melakukan penelitian, cukup banyak kesenian yang tidak memungut bayaran, sebab seluruh biaya utamanya ditanggung penanggap. Di tambah lagi dengan tidak banyaknya pilihan media hiburan di luar seni itu sendiri. Barangkali agak terlalu naif dengan bertahan pada posisi ini, sebab selalu terdapat perubahan yang memaksa seni untuk turut berubah. Dalam hal ini saya berharap, terdapat penelitian yang lebih baru mengenai ragam kesenian di Madura, yang akan memberikan pemahaman yang lebih baru, mengenai bagaimana suatu seni tumbuh dan berkembang di masyarakat yang selalu tumbuh dan berkembang.

judul asli : bacaan hari ini: lèbur, seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat madura – H. Bouvier dari : http://umamnoer.com/i

Leave a Reply
****