Menu
Categories
Membumikan Kembali Tradisi Barzanji
21/08/2008 Tradisi
Syaf Anton Wr
“Nabi kaula paneka Nabi Muhammad.
Lahir dha’ dunnya abhakta agama Islam.
Ebuepon Siti Aminah, abaepon Sayyid Abdullah. ………. (dst)”

barzanjiMeski tidak disebut sebagai sastra barzanji, lantunan lagu pada syair diatas pernah populer pada dekade akhir 70-an, khususnya bagi anak-anak. Namun tampaknya perkembangan berikutnya telah digantikan posisinya dengan lagu yang lebih modern serta mengunakan alat-alat musik yang modern pula.

Meski tidak lahir dari kalangan pesantren, sastra lokal ini sempat menyentuh dan sebagai tahap awal pengenalan anak-anak pada nabi junjungannya.

Fenomena yang lain, ketika WR Rendra dengan seniman Muslim lainnya mengusung shalawat al-Barzanji di panggung teater; yang memboyong dan memadukan syair dan irama shalawat dengan drama modern, menciptakan genre baru terhadap bentuk sebuah tampilan barzanji. Tak kurang juga, Ehma Ainun Najib dengan “Kyai Kanjeng”nya, yang jelas-jelas tak lebih dari sebuah penyampaian kalimat-kalimat shalawat yang dikemas sedemikian rupa.

Nilai penting dan positif dari kesenian yang dikemas untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial, juga akan melengkapi pesan-pesan spiritual bagi masyarakat. Pesan-pesan ini menjadi penting dan signifikan, terutama dengan melihat (dan untuk menyikapi) kondisi bangsa akhir-akhir ini. Sasaran utama dari pesan ini, tidak lain adalah ummat Islam umumnya, serta seluruh elemen bangsa dan rakyat Indonesia.
Ajakan kembali nilai-nilai moral-sosial, pada akhirnya secara tidak langsung juga mengajak keseluruhannya untuk mempertimbangkan pentingnya sentuhan dan nilai-nilai seni atau estetika.

Barzanji: Seni Satra Lokal?
Ada sementara pihak mengatakan bahwa kesenian adalah bagian dari tradisi hidup, dengan demikian, ia akan selalu berubah mengikuti perkembangan way of life kita. Di zaman modern dan post-modern, bila kita hendak membayangkan kembali kesenian sebagai bagian dari keniscayaan hidup itu, maka tak cukup hanya bila dihidupi oleh sikap romantis-utopis tentang kehidupan seni tradisi masa lalu yang sering dicitrakan unik, menarik, klasik, eksotik, indah, alamiah dan tak pernah berubah.

Mencermati perkembangan yang terjadi; apapun jenis, bentuk dan hakekatnya, proses kehidupan kesenian sekarang merupakan bagian yang tak terelakan dari sebuah kebutuhan, identik dengan sarana untuk merebut perhatian khalayak. Disini, peristiwa budaya bernuansa ritus-keagamaan pun tidak segan-segan lagi dikreasikan sedemikian rupa, agar mendapat tempat di hati masyarakat bukan saja sebagai hiburan, juga dibalik itu ada kebutuhan-kebutuhan lain, seperti media pembelajaran dan perenungan.

Setidaknya, setiap pengelola pertunjukan akan mencari kiat sekuat pikiran, menawarkan apa saja, segala kreasi seni yang dimilikinya supaya layak dinikmati publik. Bahkan, seni tradisi yang tadinya memiliki hakikat sebagai bagian dari sosio-aspirasi, penggerak kesadaran dan ajakan kontemplasi bagi masyarakat pendukungnya dan sebagai sarana dialogis dalam menata ketahanan budaya setempat, menjadi tandus oleh pemikiran yang ditekankan oleh budaya massa (kultur media).

Akibat lain yang kronis: seni tradisi tak mampu lagi menjadi penggugah kesadaran dan ajakan kepada publik pendukungnya, ketika posisi seni telah berubah arah dari hakekat ketahanan-budaya menjadi sekedar pengisi keterhiburan dan pemuas selera masyarakat. Padahal,seyogyanya ia mengemban tanggung jawab besar dan mulia: sebagai agen pewarta kebenaran, keindahan serta keluhuran budi dalam jangka panjang.

Membaca fenomena tersebut, akankah seni tradisi Islam (kalau boleh saya sebut seperti itu) berupa karya sastra Islam semisal bezanji yang syarat dengan pesan-pesan untuk mempertebal keyakinan ummat Islam tentang posisi junjungan Nabi Muhammad dengan segala kelebihannya akan tertinggal jauh dari ummat (Islam) nya sendiri. Padahal bila dicermati, ungkapan-ungkapan yang dilantunkan jauh melampui batas imaji para penyair kita, dan bahkan sentuhannya melampaui batas peradaban dari masa ke masa.
Ada sinyalemen di kalangan masyarakat, bahwa membaca atau menyampaikan puji-pujian terhadap kebesaran Nabi merupakan ibadah, apalagi disampaikan dengan khusuk dan masyuk. Kenyataan ini seharusnya menjadi takaran bahwa sebenarnya proses kehidupan akan selalu bergantung pada realitas. Dan barzanji adalah realitas yang berdimensi religius.

Bila ditarik benang merah, sentuhan religiusitas masyarakat yang dalam lingkup ummat Islam, barzanji seharusnya sedemikian menyatu dalam semangat keislaman. Atau dengan kata lain, barzanji telah menemukan jati diri di tengah kerimbunan budaya masyarakat sebagaimana kedudukannya untuk mengantar ummat ke dalam suatu keyakinan penuh. Persoalannya sekarang, sejauh mana akses barzanji terefleksi terhadap kemungkinan perubahan (peningkatan) mental spiritual terhadap penikmatnya.

Adalah sebuah realitas yang memprihatinkan bahwa banyak karya seni (sebut: seni sastra) yang tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat, yang kemudian disebut seni lokal, pada akhirnya mundur dengan teratur dan bahkan mati sekarat. Padahal seni-seni lokal semacam itu memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan kebudayaan masyarakatnya. Atau sebut saja seperti macapat, syi’ir, atau dalam tradisi mainan anak-anak seperti folklore dan sebagainya, sebenarnya kandungan-kandungan dalam karya sastra tersebut, memiliki multi dimensi ajaran.

Namun karena alasan-alasan klasik yang mengatas-namakan perkembangan budaya, seni tradisi semacam itu pada akhirnya kehilangan tempat tinggal, dan bahkan makin dijauhi oleh masyarakatnya. Sebuah ironi, ketika budaya masyarakat telah kehilangan arah dan tujuannya, kitapun dalam ketidakberdayaan. Dan tentu kita berharap barzanji tidak akan mengalami nasib yang sama, seperti kehidupan “saudar kembarnya”, sastra lokal.

Paling tidak, terdapat dua faktor yang menyebabkan mengapa hal itu terjadi, yaitu faktor yang berasal dari luar dirinya (faktor eksternal), dan yang berasal dari dalm dirinya (faktor internal). Gelombang perubahan yang melanda dunia mencuatkan produk-produk kesenian yang menghibur, mudah dicerna, gampang ditiru, enak dirasakan, disebarluaskan oleh media massa, dan didukung oleh modal besar, merupakan faktor eksternal penyebab ketersudutan seni lokal. Produk-produk kesenian global merampas selera sebagian besar masyarakat. Secara internal masyarakat pelaku dan penikmat sudah tidak merasa memiliki, tidak apresiatif.

Demikian pula dalam masyarakat Islampun mengalami hal yang sama. Ketika faktor-faktor eksternal dan internal itu makin merambah ke segmen masyarakat Islam, seni-seni yang bernuansa Islampun ikut terkikis oleh gelobang perubahan. Contoh misal di masyarakat Madura, penampilan samroh, qosidah, gambus, nasyid, hadrah dan sejenisnya pernah mengalami booming pada dekade sampai akhir tahun 80-an. Sejumlah perkumpulan, festiwal atau paling tidak pertunjukan-pertunjukan dalam rangka memperingati Hari-hari Besar Islam, tidak lengkap tanpa digelar kesenian yang bernuansa Islam itu. Namun kenyataan, dangdut lebih meraja, segala jenis hiburan yang – katanya – disebut modern lebih dekat dihati masyarakat, termasuk di tengah masyarakat tradisi dan masyarakat muslim.

Semua ini merupakan jawaban, bahwa sebenarnya akar persoalan dari kemunduran ini terletak pada ummat Islam sendiri yang kerap menilai sepihak tentang pemahaman kesenian. Bila kita amati, penyebab kemacetan kesenian dikalangan ummat Islam sendiri antara lain;

  • konsepsi Islam tentang kesenian tidak jelas, disamping kurang atau tidak memahami falsafah kesenian;
  •  karena pengertian dien Islam sudah dipersempit menjadi agama Islam, sedang dalam agama tidak ada tempat kesenian, maka dianggap pula tidak ada tempat kesenian dalam Islam;
  • kejatuhan ummat Islam dalam kebudayaan umumnya dan sosial, ekonomi, termasuk politik yang berakibat pembekuan kehidupan kesenian;
  • tanggapan ummat Islam (yang sudah dipengaruhi budaya Barat) tentang kesenian, mengasosiasikannya dengan temporer yang bersifat sekularisme. Dengan demikian kesenian akan selalu berlawanan dengan Islam yang anti sekularisme.

Selain empat hal tersebut, yang lebih tragis lagi yaitu mengharamkan kesenian (tanpa memberi batasan wilayah kreasi), meski sebenarnya dalam realitasnya mereka dengan sadar “amalan-amalan kesenian” dilakukan sebagai kebutuhan proses keberagamaan, seperti membaca al-Qur’an dengan berlagu, menyerukan adzan dengan irama merdu, memajangkan karya seni rupa kaligrafi, termasuk didalam barzanji, dan sebagainya.

Sebenarnya, dalam kondisi semacam itu tidak harus menimbulkan skeptis dan apatis bagi pengembangan seni sastra Islam. Mengapa? Karena kesenian lokal bisa bertahan dan berkembang secara pesat apabila tumbuh komitmen kultural di kalangan pendukungnya. Dan barzanji mempunyai potensi kuat dalam menghadapi realitas tersebut, karena;

  • barzanji memiliki dimensi religiositas yang tinggi, karena secara langsung berhubungan dengan keberadaan Nabi Muhammad;
  • memiliki massa (ummat Islam) sangat besar dan dominan;
  • mudah dihafalkan dan difahamkan;
  • enak dan indah dilantunkan ketika ditangkap telinga dan hati;
  • (seharusnya) menjadi bagian dari kebutuhan rohani

Tapi tampaknya dari perkembangan yang terjadi, barzanji tidak begitu membumi, bahkan makin terlupakan bila tanpa ditandai peringatan-peringatan kelahiran Nabi, atau dalam kegiatan perkumpulan-perkumpulan yang juga kurang banyak diminati bila dibandingkan dengan realitas masyarakat Muslim yang makin bertambah.

Keberhasilan dan kegagalan suatu produk kesenian seringkali ditentukan oleh penguat, yaitu pelaku dan penikmatnya, selain modal (suatu kekuatan yang mempelopori terjadinya perkembangan). Dalam kesenian lokal seperti seni sastra barzanji yang demikian kental dengan kebutuhan moral spiritual, seharusnya makin memberikan pencerahan ketika berhadapan dengan kebudayaan global, baik pencerahan kuantitas maupun kuantitas.

Pencerahan kuantitas yaitu makin meningginya aktifitas barzanji dengan menawarkan ruang lebih luas lagi ke seluruh penjuru masyarakat. Artinya barzanji tidak sekedar disampaikan pada acara-acara seremoneal semata, seperti dalam peringatan hari-hari besar Islam, tetapi juga harus lebih menyentuh ke seluruh lapisan. Sedang pencerahan kualitas, yaitu memberikan sentuhan sentuhan lebih kuat terhadap nilai-nilai ketakwaan.

 

Leave a Reply
****