Menu
Categories
Stereotipe Orang Madura
24/07/2013 Artikel

Dalam Babad Tanah Jawi Buku III

By: Muhammad Zuhdi

Madura, pulau di sebelah timur laut Pulau Jawa adalah pulau yang gersang dan tandus. Curah hujan sangat rendah. Mayoritas tanahnya berkapur dan tidak sedikit yang mengandung cadas. Pada musim kemarau, matahari seolah tak berjarak dengan kepala. Mata pencaharian utamanya nelayan dan tani. Tapi dewasa ini, karena kondisi alam yang sudah tidak menjanjikan dan ditambah dengan tuntutan hidup yang semakin meningkat, sebagian orang madura bermigrasi secara massif khususnya ke Pulau Jawa karena secara geografis paling berdekatan dengan Pulau Madura yang hanya dipisahkan oleh selat sepanjang 2.5 KM.

Orang Madura sejatinya tersebar bukan saja hampir di seluruh Nusantara, tapi bahkan juga hampir di seluruh dunia. Tidak sedikit kisah atau cerita tentang orang Madura perantauan baik yang berskala nasional maupun internasional. Karena penyebaran yang hampir menyeluruh khususnya di Nusantara maka tidaklah sulit untuk mendapatkan kesan tentang orang Madura dari orang non Madura di manapun dan kapanpun. Akan tetapi sayangnya kesan yang dapat ditangkap tentang orang Madura selama ini cenderung negatif khususnya karena faktor stereotipe.

Stereotipe secara sederhana dapat dikatakan sebagai pencitraan atau pelabelan secara diskriminatif dengan hanya menampilkan salah satu sisi atau sebagian kecil saja dari kebiasaan sebagian entitas dan kemudian digeneralisasikan secara membabi-buta terhadap keseluruhan entitas tersebut. Misalnya saja dalam kasus stereotipe orang Madura yang selama ini terkesan selalu diidentikkan dengan kekasaran dan kekerasan. Bahwa sebagian orang Madura kasar dan keras adalah sebuah fakta sosiologis yang memang sulit untuk dipungkiri. Akan tetapi pertanyaannya adalah apakah benar bahwa semua orang Madura itu keras dan kasar? Tidak adakah orang Madura yang lembut dan halus? Sekali lagi fakta sosiologislah yang berbicara bahwa ternyata tidak sedikit orang Madura yang berperangai halus dan berpembawaan lembut.

Namun sayangnya fakta sosiologis yang terakhir ini terabaikan karena mungkin efek yang ditimbulkan oleh fakta sosiologis yang pertama jauh lebih besar sehingga mengakibatkan generalisasi yang tidak pada tempatnya. Definisi kekerasan dan kekasaran pun tidak tunggal. Banyak orang Madura yang keras dan kasar hanya dari sisi lahirnya saja. Artinya sebenarnya sisi batinnya baik. Hanya saja faktor geografislah yang membuat perangai dan pembawaannya terkesan kasar dan keras. Tapi ada juga yang memang lahir batin keras dan kasar. Tapi sekali lagi yang seperti ini tidak semuanya atau bahkan mungkin juga tidak banyak.

Stereotipelah yang membuat seolah-olah setiap orang madura itu keras dan kasar. Ada juga yang kemudian lebih merupakan korban dari penyikapan yang salah terhadap stereotipe tersebut. Misalnya ada orang Madura yang sebenarnya lemah dan lembut. Tapi setelah ia bersinggungan dengan stereotipe orang Madura yang keras dan kasar, orang tersebut bukannya melawan tapi malah merubah dirinya dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti yang distereotipekan.

Stereotipe tentang orang Madura tidak hanya dapat dijumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dalam karya sastra pun stereotipe tersebut dapat menjelmakan dirinya. Salah satu karya sastra yang mengandung stereotipe orang Madura adalah Babad Tanah Jawi karya R. Ng. Yasadipura yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Amanah Lontar khususnya buku III yang akan menjadi sumber data dalam analisis ini.

Stereotipe yang muncul dalam buku tersebut lebih berkaitan dengan keberanian orang Madura saat menghadapi musuh dalam peperangan. Namun sayangnya keberanian tersebut kemudian ternoda oleh sikap brandal dan urakan pasca peperangan sebagaimana digambarkan dalam buku itu. Misalnya seperti yang terdapat pada halaman 53 alinea kedua yang berbunyi:“… Orang Madura yang banyak jumlahnya menjarah di mana-mana. Yang lelaki di bunuh, perempuannya dibawa. Negeri-negeri yang dilalui orang Madura takluk dan barang-barangnya dijarah. Orang Juwana pun mengungsi semua.”

Kesan serupa dapat juga dilihat pada halaman 57 alinea pertama yang berbunyi:
“… Orang-orang kecil sangat takut kepada orang Sampang. Dandangwacana sampai di Kajoran, sikapnya sangat sombong. Negeri Pajang yang takluk diinjak-injak. Orang di dalam kota sangat takut dijarah orang Sampang …”

Dari kedua sampel di atas jelas dapat ditangkap pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa orang Madura suka membunuh, menjarah, dan menyiksa orang-orang yang sudah tidak berdaya. Penggambaran orang Madura seperti ini sebenarnya bukan hanya sekedar stereotipe tapi sudah sampai pada tingkatan stereotipe ekstrim yang bahkan tidak memberi peluang sekecil apapun bagi sebagian orang Madura lainnya untuk meluruskan fakta yang sebenarnya bahwa orang Madura bukan hanya para perusuh itu.

Sedangkan yang terkait dengan keberanian orang Madura seperti yang ada pada halaman 35 alinea kedua yang berisi ucapan raden Trunajaya kepada utusan yang berbunyi:
“… Laporkan kepada Eyang bahwa saya tidak bermaksud melarang orang Madura menghadap ke Mataram. Ini semua karena gilanya orang Sampang yang tidak mau diperintah. Jika ada perintah agar mengerahkan orang Madura menyerbu ke Demung saya persilahkan. Jangankan siang, malam hari pun saya persilahkan …”

Dari sampel tersebut terkesan seolah-olah orang Madura tiada duanya dalam hal keberaniannya dan kesiapannya dalam menghadapi pertempuran. Di samping itu juga dapat ditangkap kesan seolah-olah orang Madura itu hobinya bertarung dan bertarung di mana saja dan kapan saja.

Penggambaran orang Madura dalam Buku itu mirip sekali dengan personifikasi Darsam dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Secara tragis Pram bahkan mendeskripsikan Darsam yang kebetulan juga berasal dari Sampang sebagai orang yang tidak dapat menyelesaikan persoalan selain dengan jalan kekerasan yang disimbolkan dengan parang yang selalu dibawa ke manapun ia pergi.

Sumber: http://badrus-syamsi.blogspot.com/

Leave a Reply
****