“Jokotole, kudaku lari ke alun-alun. Tidak ada yang berani menangkap kuda itu. Bila ada yang berani mendekat, kuda itu pasti akan menggigitnya. Banyak yang terluka karenanya. Kuperintahkan engkau menangkap kuda itu.” perintah baginda raja.
Jokotole pun melaksanakan perintah sang raja. Berangkatlah dia ke alun-alun. Kuda itu dapat ditangkapnya dengan mudah. Dibawanya kuda itu ke hadapan baginda raja. Semua orang merasa kagum atas keberaniannya. Baginda raja pun merasa senang dan memberinya hadiah. Di samping mendapat hadiah, Jokotole diangkat menjadi patih muda yang bergelar “Kudapanole”. Baginda raja, Prabu Brawijaya, juga memberi rantai belang, payung biru yang pinggirannya berwarna kuning, empat buah tombak, dan membawahi enam desa.
Saat Jokotole diangkat menjadi patih muda, maka wewenang pemerintahan dibagi. Jokotole bertugas di dalam keraton, sedang patih yang lama bertugas di luar keraton. Jokotole memerintah para menteri dan para pegawai di bawah menteri
Dalam usianya yang masih muda, Jokotole mendapat kepercayaan Raja Majapahit. Kepandaian, kejujuran, kerja keras dan keberaniannya mengantarkan pada kesuksesan. Kesetiaan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, membuat nya selalu mendapat pujian dari baginda raja. Sifatnya yang rendah hati membuatnya disukai oleh oleh semua orang.
Raja Blambangan, Minakjayengpati, tidak mau tunduk kepada Raja Majapahit. Prabu Brawijaya pun mengutus salah satu menterinya. Ia diberi tugas untuk menyampaikan surat kepada Raja Blambangan. Isinya agar Raja Blambangan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit dan mau membayar upeti. Namun, ia tidak bersedia. Bahkan, merobek surat dan menantang Raja Majapahit.
Setelah mendengar cerita dari utusannya, Prabu Brawijaya marah. Ia pun memanggil kedua patihnya, diantaranya adalah Jokotole. Keduanya diutus untuk berperang melawan Raja Blambangan. Akhirnya, dibawalah sepuluh ribu bala tentara ke Blambangan.
Jokotole beserta bala tentaranya mampu mengalahkan prajurit-prajurit Blambangan. Jokotole pun masuk ke dalam keraton. Namun, Raja Blambangan dan seluruh penghuni keraton melarikan diri. Jokotole pun mengejar mereka, hingga akhirnya Raja Blambangan, Minakjayengpati, menyerah dan mengaku kalah.
Jokotole banyak memberikan jasa yang besar bagi Kerajaan Majapahit, terutama dalam bidang pertahanan. Karena jasanya yang besar, Jokotole dinikahkan dengan Dewi Ratnadi. Namun, Dewi Ratnadi buta karena menderita penyakit cacar.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, akhirnya Jokotole pulang bersama istrinya ke Madura. Dalam perjalanan menuju Sumenep, mereka menumpang perahu. Setelah tiba di daratan, Dewi Ratnadi ingin mandi. Tetapi, tidak ada air di tempat itu. Akhirnya, diambillah tongkat “Bulu Gaddhing” milik Dewi Ratnadi. Tongkat itu adalah pemberian seorang laki-laki tua. Tongkat itu ditancapkannya ke tanah oleh Jokotole. Ketika tongkat dicabut, keluarlah air dan mengenai wajah Dewi ratnadi.
Tiba-tiba, matanya dapat melihat lagi. Setelah mandi, wajahnya berubah menjadi sangat cantik, bekas cacar di bahunya menghilang. Sampai saat ini, sumber mata air itu masih ada. Tempat di mana sumber mata air itu berada, kemudian diberi nama “Desa Soca”.
Setelah meneruskan perjalanan, Dewi Ratnadi merasa haus. Mereka meminta air pada salah satu penduduk desa. Karena, air yang mereka minta dingin, tempat itu diberi nama “Desa Banyocellep”. Desa ini terletak di sebelah timur Desa Soca.
Dalam perjalanan, mereka menuju ke arah timur. Keduanya menemukan buah jambu yang menguning., rasanya pun sangat manis. Tempat itu pun diberi nama “Desa Jambu”.
Siang malam Jokotole bersama istrinya berjalan. Hingga satu saat, istrinya hendak buang air. Ditancapkannya kembali tongkat miliknya. Kemudian, sumber air itu diberi nama “Banyobanger” (air yang berbau tidak enak). Letak Banyobanger berada di sebelah timur Kota Sampang.
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah hutan. Di tempat itu pun tidak ada sumber mata air. Kemudian, ditancapkan kembali tongkatnya. Ketika Dewi Ratnadi mencuci kainnya yang kotor, kain itu hanyut dan tidak ditemukan lagi. Sumber mata air itu pun diberi nama “Omben”. Letaknya di sebelah timur daya Kota Sampang.
Tiba di sebuah desa, Dewi Ratnadi merasa kepanasan dan kehausan, ia pun ingin mandi. Karena di tempat itu tidak ada sumber mata air, ditancapkanlah tongkatnya. Keluarlah mata air yang sangat bening dari dalam tanah. Tempat itu diberi nama “Desa Sendang”. Desa Sendang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenap.
Jokotole pun tiba di Keraton Sumenep. Ia pun bertemu dengan ibu kandungnya, Raden Ayu Potre Koneng. Tiga hari kemudian, Jokotole pamit pada ibunya untuk mencari ayahnya di Gunung Gegger.
Di Gunung Gegger, ia pun bertemu dengan ayahnya, Adipoday. Ayahnya pun memberi tahu bahwa ia akan menjadi seorang raja, penerus sang kakek. Diberitahukan pula bahwa ia akan berperang melawan seorang satria ulung bernama Dempo Abang. Ia memiliki kapal yang dapat berlayar di lautan dan terbang di langit. Karena itu, Jokotole diberi kuda berwarna hitam dan sebuah cemeti oleh Adipoday.
Pangeran Saccadiningrat sudah semakin tua. Dipanggillah Adipoday, menantunya, dan Jokotole, cucunya. Dia ingin Adipoday menggantikannya sebagai raja. Namun, Adipoday menolak. Dengan alasan, orang tuanya yang bernama Panembahan Balinge atau yang bergelar Ario Pulang Jiwa juga sudah tua. Ia akan pulang ke Sepudi, menggantikan sang ayah menjadi raja di Pulau Sepudi dan sekitarnya.
Akhirnya, Jokotole diangkat menjadi raja. Ia menggantikan kakeknya, Pangeran Saccadiningrat. Ia pun meminta pusat pemerintahan dipindah ke timur yaitu Desa Lapataman, Kecamatan Dungkek. Tujuannya agar dekat dengan pelabuhan Sepudi.
Setelah Jokotole menjadi raja, panggilannya pun berubah menjadi Pangeran Saccadiningrat II. Namun, orang-orang Sumenep lebih banyak mengenalnya dengan sebutan Jokotole atau Kudapanole.
Pada suatu hari, Jokotole mengirim surat pada saudaranya, Agus Wedi, di Gresik. Isi suratnya memberitahukan bahwa ia telah dinobatkan sebagai Raja Sumenep. Ia juga meminta adiknya agar datang ke Sumenep. Mendapat surat itu, agus Wedi bersama istri dan kedua anaknya datang ke Sumenep. Sungguh senang hati Raden Ayu Potre koneng bertemu dan berkumpul dengan kedua putranya.
Agus Wedi sudah menjadi Raja Gresik dan menikah dengan Raden Ajeng Sekar Kadatun. Dalam menjalankan pemerintahannya, negerinya aman dan tenteram. Tanahnya pun semakin subur sehingga panennya melimpah. Agus Wedi menjadi raja yang adil dan bijaksana, serta dicintai rakyatnya.
Dikisahkan bahwa Dampo Abang sampai di Negeri Majapahit setelah menaklukan banyak negara. Kini, ia ingin menunjukkan kekuasaannya kepada semua raja di tanah Jawa, Madura, dan sekitarnya. Disuruhnya juragan perahu untuk mengantarkan surat kepada Raja Sumenep.
Setelah membaca surat itu, Jokotole pun berkata bahwa ia menerima tantangan Dampo Abang. Sang juragan perahu pun pulang. Disampaikannya apa yang dikatakan oleh Jokotole. Dampo Abang pun marah dan segera berangkat ke Sumenep.
Jokotole melihat sebuah perahu terbang dari arah selatan. Kemudian, ia memanggil Megeremmeng, kuda hitam pemberian ayahnya. Si Megaremmeng pun terbang menemui perahu Dempo Abang. Perang pun terjadi. Keduanya sama-sama kuat. Kuda dan perahu saling bertabrakan, namun tak ada yang kalah.
Dalam peperangan yang dahsyat tersebut, Adipoday dan Adirasa pun datang, namun wujud mereka tidak tampak. Keduanya datang untuk membantu Jokotole. Dampo Abang merasa akan kalah, karena kekuatan Jokotole bertambah. Ia melarikan diri dengan perahunya dan Jokotole pun mengejarnya. Sampai di tengah lautan, terjadilah perang kembali. Setelah Jokotole mendengar suara dari pamannya yang berkata “pukul”. Ia menahan kekang kuda dengan keras sehingga kepala Si Megaremmeng menoleh ke belakang. Jokotole pun juga menoleh ke belakang sambil memukul cemetinya. Cemeti mengenai perahu Dampo Abang sehingga hancur. Akhirnya, Dampo Abang juga terkena cemeti dan tenggelam di lautan.
Jokotole sangat dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Ia memegang kekuasaan sampai lanjut usia. Dan akhirnya, putranya yang bernama Ario Wigananda dinobatkan sebagai raja. Di masa tuanya, dia lebih banyak bersemedi. Ia juga membuat rumah dan taman di Desa Lapataman. Sampai sekaran,g taman itu masih ada.
Suatu saat Jokotole sakit keras, Ario Wigananda membawanya pulang. Jokotole pun berpesan, “Jika aku mati, maka abadikan namaku menjadi nama sebuah tempat. Dan di mana pun pikulan itu patah, di tempat itu pula aku harus dimakamkan.”
Jokotole pun diusung dan ditengah perjalanan, ia pun meninggal. Kemudian, tempat itu diberi nama “Batang-Batang”. Jenasah Jokotole pun diusung menuju arah barat dan ketika tiba di tengah gunung, pikulannya patah. Di tempat itu sukar sekali menemukan air. Kemudian, Ario Wigananda menancapkan tongkat ibunya. Keluarlah air dari tanah dan jasad Jokotole dapat disucikan dan kuburkan. Kemudian, tempat tersebut disebut Desa Sa-asa, yang artinya tempat untuk menyucikan Jokotole.
*****
Sumber rujukan:
Werdisastra, Raden. 1996. Babad Sumenep. Cetakan I. Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah.
Abdurrahman. 1998. Sejarah Madura Selayang Pandang. Cetakan III.
Tim Penulis Sejarah Sumenep. Sejarah Sumenep. Makalah Disampaikan Pada Seminar Buku Penulisan Sejarah Sumenep yang Diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep Pada Hari Rabu, 10 Desember 2003 Bertempat di Pendopo Agung Sumenep.












